Rss Feed

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN HUBUNGAN TUMBUHAN DENGAN AIR

            
                                                                     OLEH :


NAMA                                   : AHMAD MURSYID
NO.BP                                    : 1010421013
KELOMPOK                         : IV
ANGGOTA KELOMPOK     : 1. DINA HAYATI PUTRI
                                                  2. DETTI INTAN SARI
                                                  3. CYNTIA DWI CARNOVA
ASISTEN                               : ERON SWANDRA








                                           LABORATORIUM FISIOLOGI TUMBUHAN
                                                            JURUSAN BIOLOGI
                      FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
                                                    UNIVERSITAS ANDALAS
                                                              PADANG, 2012








                                                               I.    PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang

Air merupakan komponen utama dalam tumbuhan, diman air menyusun 60-90 % dari berat daun. Jumlah air yang dikandung tiap tanaman berbeda-beda, hal ini bergantung pada habitat dan jemis spesies tumbuhan tersebut. Tumbuhan herba lebih banyak mengandung air daripada tumbuhan perdu. Tumbuhan yang berdaun tebal mempunyai kadar air antara 85-90 %, tumbuhan hidrofik 85-98 % dan tumbuhan mesofil mempunyai kadar air antara 100-300 % (Fitter dan Hay, 1981).
Kuantitas air yang dibutuhkan oleh tanaman sangat berbeda-beda sesuai dengan jenis dan lingkungan dimana tumbuhan itu hidup. Tanaman herba menyerap air lebih banyak dibandingkan tanaman perdu. Tumbuhan golongan efemera yang hidup di daerah gurun, akan memanfaatkan hujan yang datang sekali dalam setahun untuk mulai hidup dan berkecambah, berbunga, berbuah dan mati sebelum air yang ada dalam tanah habis. Pertumbuhan yan gcepat dan pendeknya umur tanaman tersebut merupakan suatu usaha untuk menghindari diri dari kekurangan air yang menimpanya (Dwijoseputro, 1985).
            Air mampu melarutkan lebih banyak bahan dari zat cair lainnya. Hal ini sebagian disebabkan karena air memiliki tetapan dielektrik yang termasuk tinggi yaitu suatu ukuran kemampuan untuk menetralkan tarik-menarik antara muatan listrik. Jika air mengandung elektrolit terlarut makalarutan ini membawa muatan, dan air menjadi penghantar listrik yang baik. Tapi jika air benar-benar murni, maka ia adalah penghantar listrik yang buruk. Ikatan hydrogen membuatnya terlalu kuat sehingga tidak mudah baginya untuk membawa muatan (Salisbury and Ross, 1995).
Pentingnya air sebagai pelarut dalam organisme hidup tampak amat jelas, misalnya pada proses osmosis. Dalam suatu daun, volume sel dibatasi oleh dinding sel dan relative hanya sedikit aliran air yang dapat diakomodasikan oleh elastisitas dinding sel. Konsekuensi tekanan hidrostatis (tekanan turgor) berkembang dalam vakuola menekan sitoplasma melawan permukaan dalam dinding sel dan meningkatkan potensial air vakuola. Dengan naiknya tekanan turgor, sel-sel yang berdekatan saling menekan, dengan hasil bahwa sehelai daun yang mulanya dalam keadaan layu menjadi bertambah segar (turgid). Pada keadaan seimbang, tekanan turgor menjadi atau mempunyai nilai maksimum dan disini air tidak cenderung mengalir dari apoplast ke vakuola (Fitter dan Hay, 1981).
               Dwijoseputro (1985), menjelaskan bahwa pemasukan air dari dalam tanah ke dalam jaringan tanaman melalui sel-sel akar secara difusi dan osmosis. Dengan masuknya aie melalui sel akan tentulah akan terbawa ion-ion yang terdapat di dalam tanah karena larutan tanah mengandung ion.
Bila persedian air dalam tanah sedikit maka tumbuhan akan menyerap air sedikit pula, sehingga tidak mampu mencukupi kebutuhannya. Jika persediaan air tanah makin kurang maka tumbuhan tersebut akan mengalami kelayuan. Air merupakan factor utama pertahanan tumbuhan (Bidwell, 1979). Fungsi lain dari air adalah menjaga turgiditas yang penting bagi perbesaran sel dan pertumbuhan, serta membentuk tanaman herba. Turgor penting dalam membuka dan menutupnya stomata, Pergerakan daun dan pergerakan korola bunga dan terutama dalam variasi struktur tanaman. Kekurangan air dalam jumlah yang besar menyebabkan kurangnya tekanan turgor pada/ dalam tumbuhan vegetative (Kramer, 1980).

1.2 Tujuan

             Untuk mengukur kadar air yang ada pada bagian tanaman dan mengukur turgiditas relative dan deficit air dari jaringan tumbuhan





             
                                                     II.    TINJAUAN PUSTAKA


Pentingnya air sebagai pelarut dalam organisme hidup tampak amat jelas, misalnya pada proses osmosis. Dalam suatu daun, volume sel dibatasi oleh dinding sel dan relative hanya sedikit aliran air yang dapat diakomodasikan oleh elastisitas dinding sel. Konsekuensi tekanan hidrostatis (tekanan turgor) berkembang dalam vakuola menekan sitoplasma melawan permukaan dalam dinding sel dan meningkatkan potensial air vakuola. Dengan naiknya tekanan turgor, sel-sel yang berdekatan saling menekan, dengan hasil bahwa sehelai daun yang mulanya dalam keadaan layu menjadi bertambah segar (turgid). Pada keadaan seimbang, tekanan turgor menjadi atau mempunyai nilai maksimum dan disini air tidak cenderung mengalir dari apoplast ke vakuola (Fitter dan Hay, 1981).
       Dwijoseputro (1985), menjelaskan bahwa pemasukan air dari dalam tanah ke dalam jaringan tanaman melalui sel-sel akar secara difusi dan osmosis. Dengan masuknya aie melalui sel akan tentulah akan terbawa ion-ion yang terdapat di dalam tanah karena larutan tanah mengandung ion. Pertumbuhan juga bergantung pada pengambilan air, dan banyak hal dalam hubungan air tumbuhan bergantung pada interaksi antara sel dengan lingkungan. Tumbuhan memang merupakan sistem yang dinamis dan sangat rumit, fungsi yang satu berinteraksi dengan fungsi yang lain. Dengan kata lain, tumbuhan adalah sistem multidimensi. (Salisbury dan Ross, 1995).
Perbedaan konsentrasi sangat umum terjadi pada sel hidup. Misalnya jika pada senyawa organik tertentu dalam sitosol masuk ke dalam sel dan dimetabolisme oleh mitokondria, maka konsentrasi sitosol yang berada di dekat mitokondria harus dipertahankan lebih rendah daripada konsentrasi sitosol yang berada di dekat organel lainnya. Hal ini penting diperhatikan terutama jika membicarakan difusi air. (Campbell, 1977).
             Di muka bumi ini, air merupakan bahan yang paling kerap ditemui terutama dalam bentuk cair. Walau bagaimanapun, terdapat juga kuantiti air yang besar yang wujud dalam bentuk gas (uap) di atmosfer dan dalam bentuk pepejal. Molekul air boleh diuraikan kepada unsur asas dengan mengalirkan arus elektrik melaluinya. Proses ini yang dikenali sebagai elektrolisis menguraikan dua atom hidrogen menerima elektron dan membentuk gas H2 pada katod sementara empat ion OH- bergabung dan membentuk gas O2 (oksigen) pada anod. Gas-gas ini membentuk buih dan boleh dikumpulkan air juga merupakan bahan pelarut semesta. Ini disebabkan molekul air terdiri daripada dua atom hidrogen bergabung dengan satu atom oksigen pada sudut 105 darjah antara keduanya. Struktur ini menjadikan molekul air mempunyai caj positif di sebelah atom hidrogen dan negatif di sebelah atom oksigen. Oleh yang demikian, molekul air adalah dwikutub. (Anonimous, 2008).
Di dalam tanah, air berada di dalam ruang pori diantara padatan tanah. Jika tanah dalam keadaan jenuh air, semua ruang pori tanah terisi oleh air. Dalam keadaan ini jumlah air yang disimpan di dalam tanah, jadi merupakan jumlah air maksimum disebut Kapasitas Penyimpanan Air Maksimum. Selanjutnya, jika tanah dibiarkan mengalami pengeringan, sebagian ruang pori akan terisi udara dan sebagian lainnya terisi air. Dalam keadaan ini tanah dikatakan tidak jenuh. (Islami dan Utomo, 1995).
           Sel tumbuhan, prokariota, fungi, dan sejumlah protista memiliki dinding. Apabila sel seperti ini berada dalam larutan hipotonik ketika direndam dalam air hujan, misalnya dinding akan membantu mempertahankan keseimbangan air sel tersebut. Seperti sel hewan, sel tumbuhan ini membengkak ketika air masuk melalui osmosis. Akan tetapi, dindingnya yang lentur akan mengembang hanya sampai pada ukuran tertentu sebelum dinding ini mengerahkan tekanan balik pada sel yang melawan penyerapan air lebih lanjut. Pada saat ini sel tersebut membengkak (sangat kaku) yang merupakan keadaan yang sehat untuk sebagian besar sel tumbuhan. Tumbuhan yang tidak berkayu, seperti sebagian besar tumbuhan rumahan, tergantung pada dukungan mekanis dari sel yang dijaga untuk tetap bengkak oleh larutan hipotonik sekelilingnya. Jika sel tumbuhan dan sekelilingnya isotonik, tidak ada kecenderungan bagi air untuk masuk dan selnya menjadi lembek (lembut), yang menyebabkan tumbuhan menjadi layu. (Salisbury dan Ross, 1995).
Molekul-molekul air bersatu sebagai akibat adanya ikatan hidrogen. Pada saat itu berada dalam wujud cair, ikatan hidrogennya sangat rapuh, kekuatannya hanya sekitar seperduapuluh dari kekuatan ikatan kovalen. Ikatan-ikatan tersebut terbentuk, terpisah, dan terbentuk kembali dengan sangat cepat. Tiap ikatan hidrogen hanya mampu beberapa piko detik, tetapi molekul-molekulnya secara terus-menerus membentuk ikatan baru dengan pasangan penggantinya. Oleh karenanya, dalam waktu yang singkat, sejumlah tertentu dari seluruh molekul air akan berikatan dengan molekul tetangganya, membuat molekul air lebih teratur dibanding cairan lainnya. Secar keseluruhan, ikatan hidrogen menyatukan substansi tersebut, suatu fenomena yang disebut kohesi. (Campbell, dkk, 2002).
          Pada tumbuhan, kohesi yang terjadi karena adanya ikatan hidrogen berperan pada pengangkutan (transpor) air yang melawan gravitasi. Air mencapai daun melalui pembuluh-pembuluh mikroskopik yang menjulur ke atas dari akar. Air yang menguap dari daun digantikan oleh air dari pembuluh dalam urat daun. Ikatan hidrogen menyebabkan molekul air yang keluar dari urat daun dapat menarik molekul air yang berada lebih jauh dalam pembuluh, dan tarikan ke depan tersebut akan terus ditransmisi sepanjang pembuluh sampai ke akar. Adhesi, melekatnya satu zat pada zat lain, juga berperan. Adhesi air pada dinding pembuluh membantu melawan gravitasi. (Campbell, dkk, 2002).
Hal yang berkaitan dengan kohesi adalah tegangan permukaan, yaitu ukuran seberapa sulitnya permukaan suatu cairan diregang atau dipecahkan. Air memiliki tegangan permukaan yang lebih besar dibandingkan sebagian besar cairan lain. Tegangan permukaan air juga dapat
membuat batu yang dilemparkan ke danau terapung selama beberapa saat di permukaan danau. (Campbell, dkk, 2002).
         Akar mengabsorbsi air dengan cara osmosis. Oleh karena itu absorbsi air oleh tanaman mungkin dilakukan dengan mengendalikan potencial air larutan dimana akar itu berada. Jika potencial osmotik larutan luar lebih rendah dari potensial osmotik sel-sel akar, maka air dapat masuk dari larutan luar ke dalam sistem akar. Dengan meningkatnya konsentrasi zat-zat terlarut maka masuknya air ke dalam akar akan menjadi lebih lambat sampai arah pergerakan air mungkin akan tebalik. (Tim Fisiologi Tumbuhan, 2008).
         Potensial air suatu sistem menunjukkan kemampuannya untuk melakukan kerja dibandingkan dengan kemampuan sejumlah murni yang setara, pada tekanan atmosfer dan pada suhu yang sama. Potensial osmotik larutan bernilai negatif, karena air pelarut dalam larutan itu melakukan kerja kurang dari air murni. Kalau tekanan pada larutan meningkat, kemampuan larutan untuk melakukan kerja (jadi, potensial-air larutan) juga meningkat. (Salisbury dan Ross, 1995).





                                             III.    PELAKSANAAN PRAKTIKUM



3.1 Waktu dan Tempat

Praktikum tentang “ Hubungan Tumbuhan Dengan Air” ini dilaksanakan pada hari Rabu tanggal 18 Maret 2008, yang bertempat di Laboratorium Fisiologi tumbuhan, Jurusan Biologi,FMIPA, Universitas Andalas.

3.2 Alat Dan Bahan

3.2.1 Pengukuran Kadar Air dari Jaringan Tumbuhan
Adapun alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah kotak karton, timbangan dan oven. Sedangkan bahan yang diperlukan adalah daun dan ranting tanaman serta ranting seri yang akan diukur kadar airnya.

3.2.2 Pengukuran Turgiditas Relatif
Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah cork borer, timbangan, petridish dan kertas saring. Adapun bahan yang diperlukan adalah daun tanaman Zea mays umur 14 hari dan aquadest.

3.2.3 Pengaruh kadar Garam Terhadap Penyerapan air dan pertumbuhan tanaman
Alat-alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah botol yang bersih, penggaris, kapas dan penutup. Adapun bahan-bahan yang diperlukan adalah tanaman Zea mays umur 14 hari sebagai bahan tanaman dan bahan kimia yaitu larutan CaCl2 atau NaCl dengan berbagai konsentrasi.

3.3 Cara Kerja

3.3.1 Pengukuran Kadar Air dari Jaringan Tumbuhan
Bahan daun yang segar ditimbang seberat 10gram dan dibuat 3 sampel. Masing-masing sampel disimpan di dalam kotak karton dan selanjutnya dipanaskan dalam oven selama 48 jam dengan suhu 80oC.pemanasan dilakukan sampai berat konstan. Berat yang hilang dari bahan yang dipanaskan, merupakan berat air yang dikandung bahan tersebut.
Kadar air tumbhan dihitung dengan rumus :
Berat basah = BB-BK/BB x 100 % atau

3.3.2 Pengukuran Turgiditas Relatif

Potongan daun dibuat dengan menggunakan cork borer sebanyak 10 buah dari tanaman yang tanahnya dalam keadaan kapasitas lapang dan 10 buah lagi tanaman yang tanahnya agak kering (beberapa hari tidak disiram). Berat masing-masing potongan daun ditimbang dan dicatat
beratnya (Berat segar).Potongan-potongan daun kemudian dimasukkan ke dalam petridish dan diisi aquadest.petridish ditutup dan diletakkan pada ruangan denga penerangan (lampu neon yang berintesitas 25 lumen) selama 3 jam. Setelah 3 jam potongan daun diambil. Kelebihan air yang menempel dihilangkan dengan cara meletakkan sebentar potongan daun diatas kertas saring kemudian berat daun ditimbang. Berat ini adalah berat daun dalam keadaan turgid, selanjutnya potongan daun dikeringkan dalam oven dengan suhu 80oC sampai kering, lalu berat keringnya ditimbang. Besarnya turgiditas relatif (TR) dari daun dihitung dengan rumus :
TR = BS- BK / BT- BK x 100%

Besarnya defisit air dihitung dengan rumus :
WD = BT-BS/BT-BK x 100%

WD = water defisisit dari daun.




                                                      IV.    HASIL DAN PEMBAHASAN


Setelah melaksanakan praktikum ini, maka didapatkanlah hasil sebagai brikut :
Percobaan 1: Pengukuran Kadar Air Jaringan Tumbuhan
Hasil pengukuran kadar air jaringan tumbuhan dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 1. Pengukuran kadar air jaringan Tumbuhan
No    Tanaman                  Berat basah (BB)                 Berat kering (BK)    % BB
1    Clibadium surinamense            
       Ranting           
      1    10 gram                        3,06                                          0, 694 %
      2    10 gram                        2, 94                                         0, 706 %
      3    10 gram                        2,87                                          0, 713 %
    Daun           
    1    10 gram                          3,01                                           0, 699 %
    2    10 gram                          2, 91                                          0, 709 %
    3    10 gram                          2, 98                                          0, 702 %
2    Terminalis catapa           
    Ranting           
    1    10 gram                          4, 07                                          0, 593 %
    2    10 gram                          3,38                                           0, 622 %
    3    10 gram                          3,55                                           0, 64 %
    Daun           
    1    10 gram                         3, 89                                           0, 611 %
    2    10 gram                          3,92                                           0, 608 %
    3    10 gram                         4,04                                            0, 596 %

Dari tabel dapat dilihat bahwa kadar air untuk tiap-tiap jenis tanaman berbeda-beda. Kadar air pada daun dan ranting herba (seri) lebih tinggi daripada kadar air pada ranting daun perdu dan pohon.Hal ini sesuai dengan pendapat Dwidjoseputro (1980) yang menyatakan bahwa kadar air dari berbagai macam tanaman berbeda dimana tanaman herbacius lebih banyak mengandung air dari tanaman lignosus.
Sedangkan menurut Salisbury dan Ross (1995), keadaan air tanah sangat mempengaruhi tingkat transpirasi dan respirasi biar persediaan air dalam tanah berkurang maka transpirasi jelas akan berkurang sebagai penutupan stomata. Hal ini juga mempengaruhi benyaknya keberadaan air pada setiap tumbuhan.

Tabel 2. Pengukuran Turgiditas Relatif dan Water Defisit

a.    Daun Zea mays (jagung)
No    Perlakuan    BS    BT    BK    TR    WD
1          Basah    O,24    0,12    0,07       
2          Kering    0, 22    0,11    0,08
      
b.    Daun Phaseolus radiatus
No    Perlakuan    BS      BT        BK         TR            WD
1          Basah    0,04      0,02    0,0061    243,885    -143,885
2          Kering    O,o4    0,03    0,0060    141,667    -41,667

1.          TR = BS-BK /  BT – BK x 10 %            WD = BT – BS/  BT – BK x 100 %
                         
                     = 0,04 – 0,0061 X 100 %                = 0,02-0,04 x 100%
                     =  0, 02 – 0,0061                             =  0,02-0,0061
                     =   243,885                                      =  0,143,885

2.    TR = BS – BK /   BT – BK x100 %            WD =  BT – BS /   BT – BKx 100 %
                  
              = 0,04- 0,0060 x 100%                         = 0,03 – 0,04 x 100%
                  0,03-0,0060                                       = 0,03-0,0060   
               = 141,667                                              = - 41,667

        Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa turgiditas relatif tanaman Zea mays pada tanah yang basah sama besar dengan turgiditas tanaman pada tanah kering (tanaman yang tidak disiram selama 7 hari. Sedangkan water defisit lebih besar pada tanaman yang tanahnya kering daripada tanah yang basah.
         Menurut Devlin (1975) menyatakan bahwa Turgiditas relatif adalah perkiraan isi sel terhadap dinding sel dan water defisit adalah perkiraan kekurangan air pada sel tersebut.Menurut Noggle dan Fritz (1979), yang menyatakan bahwa seakan mengalami turgiditas apabila berada pada lingkungan yang banyak airnya sehingga air tersebut akan masuk ke dalam sel sampai dinding sel tidak mampu membesar.
         Loveless (1991), dalam literaturnya menyebutkan terbukanya stomata pada siang hari tidak terhambat jika tumbuhan itu berada dalam udara tanpa karbon dioksida, yaitu keadaan fotosintesis tidak dapat terlaksana.
        Selain itu, proses transpirasi juga mempengaruhi kadar air dalam tubuh tanaman ini, karena transpirasi adalah proses keluarnya air dalam tubuh tumbuhan dalam bentuk uap.
Laju transpirasi dipengaruhi oleh ukuran tumbuhan, kadar CO2, cahaya, suhu, aliran udara, kelembaban, dan tersedianya air tanah. Faktor-faktor ini mempengaruhi perilaku stoma yang membuka dan menutupnya dikontrol oleh perubahan tekanan turgor sel penjaga yang berkorelasi dengan kadar ion kalium (K+) di dalamnya. Selama stoma terbuka, terjadi pertukaran gas antara daun dengan atmosfer dan air akan hilang ke dalam atmosfer. Untuk mengukur laju transpirasi tersebut dapat digunakan fotometer. (Saisbury dan Ross, 1992).




                                                    V. KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan

Dari percobaan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Tanaman yang paling banyak mengandung air adalah tanaman herba.
2. Turgiditas relatif tanaman Zea mays pada tanah yang basah atau segar lebih besar daripada turgiditas tanaman pada tanaman Zea mays yang tidak disiram.
3. Water defisit tanaman yang tanahnya kering lebih besar daripada tanaman Zea mays yang basah.
4. Turgiditas relatif dari tanaman yang disiram tidak teratur lebih besar dibandingkan tanaman yang disiram teratur.

5.2 Saran

Setelah melaksanakan praktikum ini, dapat kami sarankan kepada praktikan agar berhati-hati dalam melaksanakan pengukuran dan berhati-hati dalam penjagaan sampel agar tidak hilang sehingga tidak terjadi lost data.



                                                                       DAFTAR PUSTAKA


Bidwell, R.G.S.1979. Plant Physiology edition 2. Macmillion Publishing. Co : NewYork
Bonner, James dan Arthur W. Galston. 1951. Priciples of Plant Physiology. W.H. Freeman and           Co.   Pasadena
Devlin, R. M and F. H Witham. 1975. Plant Physiology. Rinelang book Corporation a Subsidiarey of Champion Reinhold inc: New York
Dwidjoseputro, D. 1994.Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Gramedia : Jakarta
Lukman, Diah . 1997.Buku Ajar Fisiologi Tumbuhan. PT. Raja Grafindo Persada : Jakarta
Noggle, F.R dan G.J. Fritz.1979.Introductory Plant Physiology. Van Hostrand Rain Hold : New York
Salisbury and Ross.1995. Fisiologi Tumbuhan. ITB : Bandung

0 komentar:

Poskan Komentar